Halo Sobat Gaul The Young. Pekan lalu pada Minggu (13/8/2017) berlangsung Pelatihan Jurnalistik Seleksi Wartawan Siswa (Wasis) Angkatan XX di Solopos. Nah, penasaran kan, siapa yang akhirnya lolos menjadi personel Wasis Angkatan XX yang akan mengasuh halaman Gaul di koran Solopos edisi Minggu dan juga menjadi kontributor di laman The Young?

Dari 60 peserta seleksi, terpilih empat orang. Mereka adalah Muhammad Shoma Ma’rifatullah dari SMAN 3 Boyolali, Shefrida Listhyanita dari SMAN 1 Karanganyar, Guireva Gahara Nugrahasti dari SMA Batik 1 Solo, dan Eva Putri Septyaningrum dari SMKN 3 Solo. Mereka rata-rata aktif di ekskul jurnalistik. Jadi, ekskul tersebut  mampu mengasah keterampilan menulis dan menghasilkan orang-orang seperti mereka. Selamat buat keempatnya. Mereka wajib menularkan virus menulis kepada teman-temannya di sekolah maupun pelajar di Soloraya umumnya.

Bagi kalian yang belum lolos, masih ada kesempatan lain kok enam bulan lagi. Di samping itu, kalian bisa terlibat dalam Rubrik Gaul dengan mengirim curhat maupun puisi. Kami selalu menunggu kiriman kalian di redaksi.minggu@solopos.co.id.

Nah, sekarang kita kenalan yuk, dengan para Wasis Angkatan XX….

 

Muhammad Shoma M (Solopos - Alfian Cholis Purnomo)

Muhammad Shoma M (Solopos – Alfian Cholis Purnomo)

Muhammad Shoma Ma’rifatullah (SMAN 3 Boyolali)

Halo, panggil saya Shoma aja ya. Saya duduk di kelas X SMAN 3 Boyolali. Ketika saya membaca kata-kata Pramoedya Ananta Toer yang berbunyi “Menulislah sedari Sekolah Dasar, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi” saya langsung teringat sebuah pengalaman pada kelas IV SD yang masih jelas di ingatan.

Malam itu ibu menyuruh tidur, namun saya masih saja duduk menonton televisi. Saya merasa gundah. Ada sesuatu yang harus saya keluarkan, tapi apa? Waktu itu juga saya langsung merobek kertas dan mengambil pulpen milik bapak. Saya ingin tulis puisi, apa yang ada pada saya saat itu, saya tulis. Hasilnya, puisi berjudul Guruku. Sobekan kertas itu saya masukkan amplop, saya lem dan saya simpan di dalam tas. Esoknya, sepulang sekolah saya melangkah ke Kantor Pos Boyolali dan membeli perangko seharga Rp2.000 dari sisa uang saku. Saya kirim ke Solopos. Beberapa pekan kemudian, puisi bocah kelas IV SD tersebut dimuat di rubrik Puisi Anak-Anak.

Betapa gembiranya saya waktu itu. Waktu pun bergerak dengan mendobrak-dobrak tanpa ampun. Ketika saya duduk di bangku SMP Islam Al Azhar 21 saya bergabung dengan ekstra kurikuler jurnalistik. Guru jurnalistik kami adalah Mbak Niken Satyawati dan Bu Evy Sofia. Pada tahun itu, saya mulai aktif menulis, baik di majalah sekolah hingga media online Kompasiana.com dengan lebih dari 7.000 pembaca.

Dari menulis, saya dapatkan adalah kepuasan pribadi. Sebuah kebanggan tersendiri bisa menyalurkan gagasan dengan bermediakan aksara. Ada banyak fenomena pada realitas sosial kita yang menarik untuk disajikan dalam bentuk tulisan. Tulisan itu sendiri bisa berbentuk puisi, esai, novel, dan lain sebagainya. Saya sendiri memiliki penulis favorit seperti Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Eka Kurniawan, hingga J.K. Rowling.

Saya berharap dari gemar menulis ini akan membawa saya kepada dunia yang baru. Dunia yang sunyi namun lengkap dengan pernik-pernik warna-warninya. Ada sebuah hal yang membuat saya takjub dan tak ingin tanggal darinya, serta ada sebuah semangat baru, semangat produktivitas berkarya yang menggebu-gebu saya untuk terus berpacu. Bagaimana pun, menulis adalah tanda bahwa kita tidak bungkam. Kita bersuara dan akan terus bersuara. Dan darah yang mengalir pada tiap tubuh saya mengalirkan huruf-huruf yang menggedor-gedor saya untuk membebaskannya. Maka, hanya ada satu kata: bebaskan!

 

Shefrida Listhyanita (Solopos - Alfian Cholis Purnomo)

Shefrida Listhyanita (Solopos – Alfian Cholis Purnomo)

Shefrida Listhyanita (SMAN 1 Karanganyar)

Halo! Kenalin namaku Shefrida Listhyanita, sekarang duduk di Kelas XI MIA 5 di SMAN 1 Karanganyar. Teman-teman bisa panggil aku Shefrida atau Frida. Untuk mengenal aku lebih lanjut, lihat Instagram aku ya @shefrida. Oh iya, follow juga sekalian ya hehehe. Aku bakal sedikit cerita nih tentang hobiku semenjak SMP dulu. Tiga tahun aku di SMPN 2 Karanganyar mengikuti ekstrakurikuler (ekskul) jurnalistik dan di SMA ini aku melanjutkan menyalurkan minat dan bakatku di ekskul yang sama.

Nah, ekskul jurnalistik yang aku ikuti ini dapat membawaku mengikuti pelatihan menulis selama tiga kali, yaitu Pelatihan Karanganyar Menulis di Hotel Taman Sari yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Karanganyar pada 9-10 November 2016. Yang kedua, yaitu Kursus Kilat Jurnalistik di SMA Negeri 1 Karanganyar pada 15 Desember 2016. Terakhir yaitu 8 Maret lalu, Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional di Perpusda Karanganyar. Bulan November tahun lalu, hobiku yang tulis-menulis ini membuahkan hasil yang tak pernah aku lupakan karena mendapatkan penghargaan. Meskipun hanya juara III menulis resensi, aku tetap bangga.

Berbicara mengenai hobiku, tepatnya aku lebih suka menulis puisi daripada karya sastra yang lain karena puisi lebih singkat pembuatannya dan bisa nyiptain puisi tergantung mood hehehe. Semenjak SMP sampai sekarang aku menghasilkan beberapa puisi namun belum pernah siap untuk dipublikasikan, huhuhu. Rencananya dalam pekan ini aku akan mengikuti lomba cipta puisi di salah satu lembaga. Doakan Shefrida menang ya, teman-teman! Aamiin.

Kenapa sih kok addicted banget sama dunia kepenulisan? Nah, ini merupakan alasan kenapa aku menjadi Wasis Solopos. Semoga minat dan bakatku dapat tersalurkan di sini dan semoga bisa mengasah kemampuan menulisku menjadi lebih oke.

 

Guireva Gahara N (Solopos - Alfian Cholis Purnomo)

Guireva Gahara N (Solopos – Alfian Cholis Purnomo)

Guireva Gahara Nugrahasti (SMA Batik 1 Solo)

Halo semua, saya Guireva Gahara Nugrahasti, biasa dipanggil Hasti, sekarang aku bersekolah di SMA Batik 1 Kelas X.
Junior? Iya. Baru masuk satu bulan yang lalu. Menurutku kesempatan untuk menjadi salah satu dari empat anggota Wasis Angkatan XX adalah kado terindah sepanjang 15 kali ulang tahun. Senang, terharu, bangga, bahagia, cemas, semua campur aduk jadi satu sewaktu tiba- tiba ada pengumuman yang menyatakan aku lolos seleksi Wasis.

Aku pasti punya harapan setelah terpilih menjadi anggota Wasis. Harapan utamanya adalah membuat orang sekitarku bangga. Dengan menjadi Wasis, aku berharap bisa menjadi roda penggerak remaja lainnya agar giat menulis. Secara pribadi, aku ingin bisa menulis dengan baik dan benar, melatih percaya diri juga untuk mengirimkan
naskah tulisan ke penerbit setelah mendapat ilmu tentang cara menulis yang benar setelah menekuni jurnalistik di Solopos.

Pengalamanku di bidang tulis-menulis sebenarnya belum banyak. Sejak kelas III SD, aku udah mengikuti ekskul jurnalistik sampai sekarang duduk di bangku SMA. Istilahnya enggak pernah putus untuk ikut ekskul jurnalistik. Sewaktu SD, aku pernah punya satu karya antologi yang terbit di sebuah penerbit lokal Solo. Honor pertama dan terakhir itu Rp100.000 karena sistem penjualan buku yang bukan karya perseorangan.

Sampai sekarang aku belum berani lagi mengirimkan tulisan ke penerbit, tapi aku termasuk rajin memposting di WordPress dan Wattpad berisi cerita fiksi maupun pengalaman pribadi. Kadang aku menuliskan itu di Instagram. Semua caption  itu hasil karya aku sendiri.

 

Eva Putri Septyaningrum (Solopos - Alfian Cholis Purnomo)

Eva Putri Septyaningrum (Solopos – Alfian Cholis Purnomo)

Eva Putri Septyaningrum (SMKN 3 Solo)

Siapa sih yang tidak senang menjadi Wasis? Tentu semua senang dan mempunyai keinginan menjadi Wasis Solopos. Iya kan? Terutama aku  yang sangat bangga bisa menjadi Wasis Angkatan XX. Alhamdulillah sekarang saya telah menjadi bagian dari Solopos. Semua itu tidak pernah kusangka-sangka lo, Sobat Gaul. Kebanggaanku adalah kebanggaan orang tuaku juga.

Sebenarnya aku ikut seleksi Wasis hanya sekadar iseng lo. Karena apa? Dulu, aku tidak tertarik dengan dunia jurnalistik. Tapi tidak ada salahnya kalau kita ingin mencoba dan belajar dalam bidang tulis-menulis maupun jurnalistik. Terkadang aku juga menulis, entah itu materi pelajaraan maupun lainnya. Hal itu aku lakukan saat tidak sibuk.

Pada saat perekrutan Wasis, aku berangkat dari rumah sampai Solopos hanya menggunakan sepeda onthel dari Palur. Hal itu aku tempuh dengan semangat. Bukan semangat diriku saja yang membawaku sampai Griya Solopos. Semua itu berkat  semangat dari ayahku dan doa dari ibu maupun orang di sekitarku. Perjuangan tersebut tidak sia-sia. Semangat dan doa tersebut membuahkan hasil yang membanggakan.

Sebagai pemula dalam dunia penulisan, aku menganggap menjadi Wasis akan memberikan motivasi menekuni dunia jurnalistik. Dunia tulis menulis tak bisa dilepaskan dari dua elemen penting: membaca dan menulis. Menulis tanpa membaca akan hampa. Demikian pula sebaliknya.

Namun, menulis itu tidak semudah yang kita bayangkan lo, Sobat! Bagi saya, menulis itu sangat menyenangkan, tetapi kita harus memperhatikan isinya hingga ejaannya. Banyak manfaat yang bisa kita dapat dari menulis lo. Apa manfaatnya? Yak, benar. Ternyata dengan menulis kita dapat mengekspresikan diri, memberikan opini dan teori, memberikan informasi, mengabadikan sejarah, mencerahkan jiwa, bahkan untuk menghibur orang lain.

Dibandingkan berbicara, menyimak, maupun membaca, menulis memang memiliki kelebihan tersendiri. Dengan menulis, seseorang dapat mengungkapkan sesuatu yang tak terucapkan, mencerminkan kedalaman pikiran, dapat dibaca berulang-ulang, mudah diduplikasi, berdaya sebar tinggi, dan abadi melampui zaman. Melihat hal-hal yang bisa dilakukan dengan menulis, seorang penulis dapat meraih manfaat dalam kegiatan menulis ini, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Wow, begitu banyak manfaatnya kan? Maka dari itu, saya ingin mengajak Sobat Gaul untuk mulai menyukai bidang tulis-menulis. Walau kita belum bisa melakukannya, setidaknya kita belajar menyukai hal tersebut. Semua semangat yang kita perjuangkan dan dilewati tidak akan sia-sia ke depannya.