Tingginya mobilitas orang saat ini membuat rumah tak selalu ditinggali sepenuhnya. Repotnya kalau rumah sudah ditinggalkan kosong tak berpenghuni tapi ternyata masih ada sejumlah peralatan listrik yang lupa belum dimatik. Solusinya diberikan empat mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Teknik Elektro Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini. Mereka membuat Sistem Rumah Pintar Berbasis Internet of Things (IoT). Sistem itu bisa memantau dan mengontrol beberapa peralatan rumah tangga secara langsung. Keempat mahasiswa tersebut adalah Abid Alim Mustaqim dari Angkatan 2014, Andryawan Jaya Purnama dari Angkatan 2014, Arif Nuruddin dari Angkatan 2015; dan Henry Probo dari Angkatan 2016.

Riset pembuatan Sistem Rumah Pintar Berbasis IoT mengantar mereka meraih dana hibah dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2017 dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dengan nilai sekitar Rp6 juta. Bersama 10 tim mahasiswa lainnya dari UNS, mereka akan maju untuk berkompetisi dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2017 yang akan digelar di Universitas Muslim Indonesia di Makassar pada 23-28 Agustus 2017.

“Idenya berawal dari banyaknya kasus orang lupa mematikan alat-alat elektronik seperti lampu, televisi, kipas angin, atau AC [air conditioner] ketika sudah di luar rumah untuk bekerja atau bepergian. Padahal alat elektronik yang terus menyala menghabiskan energi listrik yang cukup besar. Tentunya tagihan biaya listrik juga besar,” ungkap Abid dan rekan-rekannya saat ditemui wartawan di Kampus UNS Solo, Minggu (13/8/2017).

Kelebihan dari sistem ini adalah bisa mengontrol dan memantau peralatan di dalam rumah dari jarak jauh menggunakan koneksi Internet. Adib mengatakan sistem monitoring juga dapat  mengetahui suhu ruangan dalam rumah. Apabila terlalu panas maka dengan sistem kontrol berbasis Internet dapat menyalakan AC. Sedangkan untuk permasalahan lampu, AC, dan televisi yang masih hidup, bisa dipantau dan dimatikan dalam jarak jauh.

“Alat ini nantinya tidak hanya bisa dikontrol melalui smartphone via Internet, namun juga bisa dikontrol dengan sistem ketika smartphone mati. Jadi peralatan elektronik tetap bisa dihidupkan. Selain itu bagi orang lain yang tidak memegang kendali atas smartphone kontrol tetap bisa menghidupkan peralatan elektronik yang diinginkan,” terang Adib.

Adib menambahkan tahap desain perancangan alat ini adalah penentuan spesifikasi awal serta penentuan material yang akan digunakan. “Penentuan material ditentukan berdasarkan cara kerja alat yang ingin dibuat,” kata dia. Tahap selanjutnya adalah persiapan alat dan bahan. Pada tahap ini akan dikumpulkan semua alat dan bahan yang diperlukan, tidak lupa biaya yang dikeluarkan. “Potensi alat ini adalah dapat diaplikasikan di gedung yang lebih besar seperti perkantoran sehingga pusat kontrol bisa dimaksimalkan fungsinya,” kata Adib.