Indonesia adalah negara agraris dengan iklim tropis yang seharusnya ideal untuk membudidayakan berbagai jenis tanaman pangan dan tanama produktif lainnya. Namun karena pengelolaan pertanian masih dilakukan secara konvensional produksinya pun tidak maksimal. Petani masih terlalu bergantung pada kondisi alam. Akibatnya negeri ini masih harus mengimpor banyak produk pertanian seperti beras atau kedelai yang sebenarnya bisa dibudidayakan di tanah sendiri.

Karena itu untuk membantu meningkatkan produktivitas petani, lima mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menciptakan sebuah prototype rumah kaca. Di dalamnya terdapat sistem yang mampu memantau dan mengontrol kebutuhan tanaman seperti kelembaban tanah, suhu, kelembaban udara, maupun cahaya. Bisa dibilang mereka melakukan “kerja keroyokan” karena yang terlibat bukan berasal dari satu program studi (prodi) saja, dan bahkan lintas fakultas.  Dari kelimanya, empat orang dari Program Studi (Prodi) Teknik Elektro Fakultas Teknik (FT). Mereka adalah Igor Muhammad Farhan dari Angkatan 2014; Abid Alim Mustaqim dari Angkatan 2014; Lia Anjarwati dari Angkatan 2015; dan Mohamad Nisman Falich dari Angkatan 2016. Sementara itu, satu mahasiswa berasal dari Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian (FP) yaitu Pandu Ardiansah yang merupakan mahasiswa Angkatan 2013.

Di bawah bimbingan dosen UNS, Chico Hermanu, penelitian tim itu berhasil meraih dana hibah dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2017. Tim mereka juga menjadi salah satu dari 11 tim yang dikirim UNS untuk maju dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2017, Rabu-Senin (23-28/8/2017). Igor selaku juru bicara tim mengemukakan sistem yang mereka buat diberi nama Twittering Plant. Sistem tersebut terdiri atas tiga bagian yakni subsistem energi yang memanfaatkan tenaga surya menjadi energi listrik untuk memasok kebutuhan energi bagi subsistem kontrol hingga bagian terakhir adalah greenhouse atau tempat budidaya tanaman.

“Pada subsistem kontrol terdapat sensor kelembaban tanah dan sensor suhu serta kelembaban udara. Data sensor kemudian ditampilkan dalam aplikasi smartphone,” jelas dia saat ditemui wartawan di Kampus UNS belum lama ini. Terdapat pula aktuator yang berfungsi seperti pompa dalam memenuhi kebutuhan air bagi tanaman, lampu untuk memenuhi kebutuhan cahaya pada malam hari, dan kipas untuk menurunkan suhu. Aktuator dapat dioperasikan melalui aplikasi smartphone secara manual maupun otomatis dengan mode terjadwal dan set point.

Sistem itu telah disosialisasikan kepada petani di Desa Polokarto dan Desa Dukuh, Kabupaten Sukoharjo serta Desa Karangjoho, Kabupaten Klaten. “Para petani di wilayah tersebut memberikan respons yang positif dan berharap sistem dapat dikembangkan lagi untuk memantau dan mengontrol parameter kebutuhan tanaman lainnya seperti pH dan pupuk,” ungkapnya.