Halo Sobat Gaul The Young! Indonesia sedang gencar-gencarnya membangun karakter bangsa. Salah satunya melalui kegiatan gemar membaca atau gerakan literasi. Bagaimana anak muda memahami kegiatan literasi ini? Ada yang menganggap mengasyikkan, biasa- biasa saja, bahkan ada yang bilang bahwa literasi ini membosankan.

Menurut Khansa Zahra Kinasih, siswi Kelas X IPS SMA Muhammadiyah PK Solo, minat baca dan menulis di kalangan anak muda sudah bagus. Banyak anak muda yang sadar pentingnya literasi. Namun yang masih kurang adalah remaja sekarang kurang bisa menghargai karya orang, modelnya adalah mereka mau membaca, tapi enggak mau mengapresiasi karya tulis tersebut. Cewek kelahiran 19 Agustus ini termasuk remaja yang suka membaca novel, apalagi yang bergenre roman remaja.

Lain lagi menurut Arina Futihatir Rizqoh. Siswi Kelas X IPS SMAIT Nur Hidayah. Gadis yang sudah menerbitkan beberapa judul buku yang terdiri atas antologi dan buku pribadinya ini juga berpendapat bahwa tradisi literasi di kalangan remaja sudah bagus, Arina juga berpesan agar remaja sekarang enggak hanya menjadikan cerita fiksi sebagai reading list, tapi juga berkembang ke model tulisan lainnya.

Khansa Zahra Kinasih, siswi Kelas X IPS SMA Muhammadiyah PK Solo

Khansa Zahra Kinasih,
siswi Kelas X IPS SMA Muhammadiyah PK Solo

Upaya menggiatkan literasi di kalangan anak muda juga dilakukan melalui sekolah. Programnya bernama Gerakan Literasi Sekolah (GLS),  diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Gerakan ini bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat.

Bagaimana Sobat Gaul memaknai GLS itu? Nandang Larasati, siswa Kelas X IPA 5 SMAN 1 Mojolaban, Sukoharjo, dan Dzulfikar Hanif, siswa kelas IXA SMP Al-Islam 1 Solo, menyumbangkan pendapat mereka. “Menurut saya GLS merupakan gerakan pembelajaran yang mewajibkan siswa menguasai materi buku,” kata Nandang. “Gerakan literasi itu adalah gerakan membaca buku dan menambah ilmu, itu menurut saya,” kata Dzulfikar.

Sekolah keduanya melaksanakan GLS. Tentu saja ada perbedaan waktu pelaksanaannya. Di SMAN 1 Mojolaban ada dua kegiatan yaitu pemahaman materi setiap Selasa dan Rabu. Sedangkan kegiatan membaca buku dilaksanakan pada Kamis. Pelaksanaannya dimulai pukul 06.15 WIB dan berlangsung selama satu jam pelajaran. Sekolah Nandang baru memasuki tahap pembiasaan. “Tahap itu baru dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca siswa di sini,” kata Nandang saat ditanya Wasis di ruang Waka Humas

Arina Futihatir Rizqoh

Arina Futihatir Rizqoh

SMAN 1 Mojolaban menargetkan selama satu tahun siswa membaca 72 jenis buku. Guru ikut mendampingi siswa saat GLS. “Kegiatan GLS ini menyenangkan tapi sedikit membebani. Beban tersebut adalah siswa harus masuk pagi dan tepat waktu. Banyak siswa yang dihukum karena terlambat. Di samping itu, kami dapat menambah wawasan,” jawab  Nandang kepada Wasis.  Untuk menghindari hukuman, siswa harus tertib dan disiplin waktu.

Sementara itu, SMP Al-Islam 1 Solo sudah lama melaksanakan GLS. Siswa terbiasa dalam kegiatan membaca buku. Kini, sekolah itu telah mencapai tahap pengembangan GLS. “Kegiatan GLS di sini adalah membaca buku-buku seperti buku religi, komik, novel, cerita, dan yang pasti setiap pagi kami membaca Alquran,” jelas Dzulfikar kepada Wasis yang menemuinya di dekat kantin sekolah. Menurutnya, kegiatan itu tidak membebani, malah menyenangkan. “Kegiatan itu dapat membangun karakter remaja untuk giat membaca buku,” tuturnya.

GLS dilaksanakan setiap hari saat jam kosong maupun jam istirahat. “Di sekolah kami  menganjurkan siswanya untuk membuat perpustakaan kecil di setiap kelas. Perpustakaan tersebut berisi buku-buku untuk dibaca,” kata Dzulfikar. Hambatannya adalah tempat yang tidak memadai untuk perpustakaan itu. ”Namun, kami menyesuaikan tempat hanya dengan menggunakan rak,” imbuhnya lagi.

 

Kita juga harus aktif menulis. Menulis apa saja, fiksi maupun nonfiksi, di buku maupun media sosial. Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Karena itu, tidak salah dikatakan orang lain akan mengakui kita tergantung pada kemampuan literasi kita. Bolehlah memplesetkan pepatah, ”Dengan membaca dan menulis, maka aku ada.”