Sobat Gaul The Young, tahu gak, jasa besar radio buat bangsa Indonesia?

Saat itu pembacaan proklamasi oleh Dwitunggal Soekarno-Hatta usai dibacakan. Namun rakyat tak kunjung tahu menahu ihwal peristiwa itu. Salah satu penyebabnya adalah radio siaran masih dikuasai Jepang. Namun, pejuang ’45 tak mudah patah asanya. Apa pun dilakukannya asal berita itu sampai di telinga rakyat. Adalah seorang Jusuf Ronodipuro yang nekat menyiarkan berita itu dengan menggunakan saluran luar negeri milik Pemerintah Jepang.

Radio memiliki peran yang signifikan dalam perjalanan Republik Indonesia. Sebut saja pidato Bung Tomo yang berhasil mengobarkan api semangat arek-arek Surabaya adalah contoh yang merefleksikan betapa krusialnya peranan radio bagi awal pergerakan Indonesia. Namun, apakah kini kawula muda masih menganggap perlu hadirnya radio?

Sebelum membahas itu, ternyata radio sendiri memiliki fakta unik yang sayang untuk dilewatkan. Radio adalah alat yang digunakan sebagai alat komunikasi kapal Titanic dan kapal terdekat lainnya guna menyelamatkan penumpangnya. Coba, kalau tiada peranan radio, pasti hanya akan sedikit sekali, kan, penumpang yang selamat? Selain itu, di Indonesia sendiri ada radio kayu merek Magno asal Temanggung, Jawa Tengah. Radio yang terkenal di Jerman, Amerika Serikat, dan Jepang itu berharga Rp1,1 juta – Rp1,3 juta per unit. Sepertinya asyik juga, ya, menyelami dunia radio!

Eksanda Lutfi

Eksanda Lutfi

Kini, apakah para kawula muda di Indonesia masih menganggap perlu hadirnya radio? Eksanda Lutfi, pelajar di SMAN 1 Solo yang berkacamata dan berjilbab biru tua itu pun ingin berbagi cerita dengan Wasis The Young. “Menurutku radio itu banyak manfaatnya. Kita bisa dapat informasi, mendengarkan lagu, dan menambah wawasan. Selain itu, radio juga dapat jadi sumber penghasilan,” ujarnya dengan tangkas.

Saat ditanya apakah dia gemar mendengarkan radio, penggemar pelajaran matematika itu pun mengiyakannya. “Aku seneng banget denger radio FM. Lengkap banget, ada musik, kalau pagi ada siaran humor, juga ada berita yang bikin kita tau tentang masalah-masalah aktual,” ujarnya dengan tersenyum.

Tapi, apakah ada pendapat lainnya? Cheche Novita, remaja yang tengah duduk di bangku SMAN 4 Solo itu pun juga bercerita kepada Wasis. “Aku waktu kecil sering ikut ibu denger radio. Tapi lambat laun karena perkembangan teknologi, radio jadi terganti oleh telepon genggam.” Selain itu, Cheche menyarankan inovasi dari radio agar tak mau digerus oleh pamor telepon genggam yang makin bisa digunakan untuk apa saja. “Biar bentuknya enggak gitu-gitu mulu,” ucapnya dengan tawa renyah.

 

Cheche Novita

Cheche Novita

Di Solo, banyak stasiun radio yang cocok buat kuping anak muda. Di antaranya Radio Solopos FM, Karavan, Solo Radio, Metta, RRI, dan masih banyak lagi. Masih banyak anak muda yang suka mendengarkan radio. Bahkan, tak sedikit anak muda yang menekuni dunia penyiaran dengan menjadi penyiar radio, walaupun radio sekolah. Menurut Novarina Antari, siswi Kelas XII  Broadcast 2 SMKN 7 Solo, radio itu tempat anak muda untuk berpikir kreatif. Dia pernah menjadi penyiar radio. Pengalaman itu dijalaninya saat praktik kerja lapangan (PKL) di Karavan FM. “Aku ingin mencari hal yang berbeda dibandingkan yang lain. Makanya aku pilih PKL menjadi penyiar radio saja,” kata dia.

Kebanyakan anak muda request lagu maupun titip salam. Ada juga anak muda memanfaatkan radio untuk mencari informasi lo.  “Manfaat menggemari radio itu sebenarnya banyak tapi anak muda sekarang kurang tahu tentang hal itu. Dengan radio kita dapat mendapatkan informasi dan bisa berpikir kreatif dalam menyusun kalimat yang akan disampaikan,” ujar Novarina.

Bagaimana pengalaman Novarina saat menjadi penyiar? ”Jadi penyiar radio itu gampang-gampang susah.  Sebenarnya tidak ada hambatannya. Hanya, kita harus mengejar waktu. Karena waktu penyiaran di radio itu hanya satu jam. Tidak boleh lebih atau kurang. Walaupun ngejar waktu tapi penyiaran tetap santai agar jelas. Kadang juga bercanda.“

Lain halnya dengan Teja Mohamad Setiawan dari SMKN 3 Solo. Dia anggota KIR dan bergulat di bidang jurnalistik. Dia tercatat sebagai editor Radio KIR SKAGA. Di SMKN 3, ada kegiatan penyiaran radio sejak 28 Oktober 2016. Wow, pas dengan Hari Sumpah Pemuda. Karena itu, tema yang dibahas dalam siaran perdana itu tentang Sumpah Pemuda. Siswa SMKN 3 mengusulkan radio sekolah agar jam istirahat mereka tidak membosankan.

Teja menyebut radio bisa jadi tempat untuk berkarya dan mencari informasi. Dia juga menyukai siaran radio yang banyak sharing informasi dunia. Kalau disuruh memilih, mendengarkan radio atau berselancar di medsos? “Lebih baik [mendengarkan] radio dibanding [bermain] medsos,” kata Teja.