Siapa bilang pekerja kemanusiaan itu cuma dari kalangan orang dewasa? Sekarang ini sudah ada banyak wadah buat para remaja yang memang berminat untuk berkecimpung di kegiatan sosial kemasyarakatan. Salah satu wadah yang sudah familiar dikenal adalah PMR.

PMR adalah singkatan dari Palang Merah Remaja yang berfungsi sebagai wadah pembinaan anggota remaja PMI (Palang Merah Indonesia). PMR berdiri ketika PMI mengadakan kongres pada 25-27 Januari 1950 di Jakarta. Nah, kali ini Wasis akan menghadirkan narasumber yang sudah berpengalaman berkecimpung di dunia PMR.

Menurut Afifah Qisthi Amalia, siswi Kelas X MIPA SMAIT Nur Hidayah Sukoharjo, PMR adalah organisasi yang berperan utama dalam membentuk sukarelawan, didukung pengetahuan kesehatan atau kedokteran, pertolongan pertama, dan gaya hidup sehat. Remaja yang pernah meraih gelar juara 1 Kader Kesehatan Remaja tingkat Kota Solo sewaktu duduk di bangku SMP ini juga berpendapat kegiatan di PMR itu seru. “Dan bisa memberi manfaat kepada sesama,” kata Qisthi ketika berbincang dengan Wasis beberapa waktu lalu.

Lain Qisthi, lain pula Annatasya Wulan Lasanawati, siswi Kelas X MIPA SMAN 1 Solo. Cewek yang akrab disapa Tasya ini secara antusias menceritakan pengalamannya ketika bergabung di PMR. Pada awalnya, Tasya bergabung di tim PMR atas dasar kemanusiaan dan pentingnya mengetahui kesehatan sejak dini. Bagi Tasya, hal itu penting banget. Tasya mengaku senang berada di PMR sejak SD sampai SMA. Tasya juga punya pengalaman seru dan berkesan sewaktu pentas seni sekolah, yaitu mengumpulkan junior-junior dan diajak bekerja bareng.

Aktivitas seperti itu susah-susah gampang. Tapi yang terpenting bagi Tasya, dia mendapat banyak hal berharga, yaitu tentang kerja sama tim dan memberi manfaat kepada orang lain. Selain itu, kegiatan PMI tentunya juga tak lepas dari aksi sumbang darah. Sumbang darah ini pun tak hanya dilakukan oleh orang dewasa. Remaja pun bisa menyalurkan kebaikan ini melalui kegiatan sumbang darah. Tentu saja ketentuannya hanya untuk Sobat Gaul yang sudah berumur 17 tahun ya.

Para siswa SMAN 2 Solo mengikuti kegiatan pendonoran darah di aula sekolah setempat beberapa waktu lalu. Kegiatan ini digelar PMR Wirasmada bekerja sama dengan PMI Solo.

Para siswa SMAN 2 Solo mengikuti kegiatan pendonoran darah di aula sekolah setempat beberapa waktu lalu. Kegiatan ini digelar PMR Wirasmada bekerja sama dengan PMI Solo.

Teman kita, Chairizal Ardhan, dari SMAN Karangpandan, Kabupaten Karanganyar juga pernah melakukan sumbang darah pada Desember 2016. Cowok kelahiran 4 Mei 1999 ini menuturkan motivasi menyumbangkan darah yaitu dari manfaat yang didapat. Manfaatnya antara lain membantu orang lain yang membutuhkan transfusi darah dan bagi pendonornya yaitu tubuh akan memproduksi sel darah baru sehingga kesehatan tubuh terjaga. “Di luar sana masih banyak orang yang kesulitan mencari bantuan darah karena keterbatasan stok dari PMI. Oleh karena itu, walau hanya satu kantung, setidaknya kita sudah meringankan kesulitan mereka,” kata Ardhan kepada Wasis, Rabu (13/9).

Di SMAN Karangpandan, organisasi yang diikuti Ardhan salah satunya yaitu PMR. “Kegiatan sumbang darah sudah menjadi agenda tahunan dalam program kerja PMR di sekolah,” ucap cowok berkacamata itu.

Lain lagi dengan cewek yang jago main bola voli, Salma. Meskipun belum boleh menyumbangkan darahnya karena harus mematuhi syarat, tahun depan ia ingin berpartisipasi. Bagaimana peran PMR di sekolah Salma? “Di SMAN 3 Solo, PMR sangat giat menggalakkan kegiatan sumbang darah yang dilakukan dua kali dalam satu tahun. Dan tentunya, antusiasme para warga sekolah sangat besar,” tutur cewek bernama lengkap Salma Ayu Azizah ini.

Sama halnya dengan Sukri Warih Sasono. Siswa SMKN 2 Karanganyar ini juga belum pernah mengikuti kegiatan sumbang darah. “Karena aku kelahiran 2001 jadi umurku masih 16 tahun. Namun, kalau tahun depan aku dapat kesempatan buat nyumbangin darah, mengapa tidak? Menolong sesama bisa dimulai dari kegiatan sederhana ini,” tutur Warih dengan nada antusias ketika diwawancarai Wasis The Young.