Kali pertama ke Solo pada 2015 untuk melanjutkan studi di Universitas Setia Budi (USB) membuat Diah Muti Cahyaningtias, 20, dekat dengan seni tradisional Jawa. Salah satunya alat musik gamelan yang sekarang ini ia kuasai. Sebagai pendatang, perempuan kelahiran Merauke, Papua, ini belajar secara autodidak. Dia awalnya hanya melihat orang main gamelan, lama-lama belajar sendiri dan menguasai beberapa instrumen.

Kepiawaiannya memainkan gamelan membuat mahasiswi Analis Kesehatan ini semakin percaya diri. Ia beberapa kali diajak untuk pentas gamelan di Sejumlah event besar. Salah satunya pentas besar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta beberapa waktu lalu. “Ya sebagai mahasiswi yang belajar di bidang kesehatan enggak salah kan belajar budaya juga,” kata dia saat ditemui beberapa waktu lalu.

Tak hanya untuk diri sendiri, Diah yang menjadi Ketua Umum Karawitan Sak Deg Sak Nyet USB Solo juga menyemangati rekan-rekan sekampusnya  mengembangkan kemampuan di bidang seni budaya. Bersama Sak Deg Sak Nyet mereka beberapa kali membawa USB di pentas-pentas besar dalam maupun luar kota. Bahkan ia dan teman-teman sebayanya menjadi penampil utama pentas Kampung Seni yang rutin digelar di Solo. Tahun ini kreasi kostum karnavalk mereka juga menjadi salah satu juara di ajang Solo Batik Carnival (SBC).

Saat ditanya alasan menyukai gamelan dan kesenian tradisional Jawa, Diah, mengaku punya misi besar. Bersama teman-temannya ia ingin turut ambil bagian dalam melestarikan budaya Indonesia. Yang selama ini semakin dijauhi kalangan remaja karena dianggap kuna. “Kami berusaha mengenalan seni tradisi seperti gamelan dengan kemasan yang sedikit modern. Agak bisa menyatu dengan anak-anak muda sekarang,” kata Diah.

Salah satunya saat terlibat dengan kegiatan tahunan Indonesia Menari di The Park Mall, awal November lalu. Bersama timnya ia mengkreasikan tarian dasar Indonesia Menari dengan gerakan modern. Begitu juga dengan kostum dan dandanan penari yang dibuat khusus agar menarik perhatian penonton.